Sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2010/09/13/12345192/Saatnya.Siaga.Gula.Darah
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Militus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diabetes Militus. Tampilkan semua postingan
Jumat, 19 November 2010
Siaga Gula Darah
Saatnya Siaga Gula Darah
Sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2010/09/13/12345192/Saatnya.Siaga.Gula.Darah
Read More......
Kompas.com - Diabetes merupakan penyakit yang bisa merenggut penglihatan, kerja ginjal, bahkan jantung. Sebuah penyakit yang sudah menewaskan ribuan orang. Kendati demikian, banyak orang yang hanya angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan terkena penyakit ini karena gejalanya memang bisa tak terlihat.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Federasi Diabetes Internasional memperkirakan lebih dari 50 persen pengidap diabetes tipe 2 tidak terdiagnosis. Mereka umumnya baru ketahuan saat berobat untuk penyakit lain. Di Indonesia, mayoritas pasien diabetes datang ke dokter sudah membawa setumpuk komplikasi. Karena itu perlu dilakukan deteksi dini untuk mencegah penyakit ini.
Diagnosis diabetes melitus dapat dilakukan dengan beberapa cara yang pada dasarnya melalui keluhan klinis dan dukungan pemeriksaan penunjang. Pada diabetes, gula darah selalu tinggi. "Dokter baru mendiagnosa seseorang diabetes bila kadar gula darah sewaktunya di atas 200 mg/dl atau gula darah puasa lebih atau sama dengan 126 mg/dl ," kata Prof.dr.Sri Hartini KS.Kariadi, Sp.PD-KEMD, penulis buku Diabetes? Siapa Takut!!
Ia menambahkan, ada beberapa kasus dengan kadar gula tinggi tetapi bukan diabetes, melainkan pra-diabetes, yakni bila pemeriksaan gula darah sewaktu menunjukkan angka 140 mg/dl.
"Pra-diabetes biasanya ditemukan sebelum atau mendahului timbulnya diabetes. Pasien pada golongan ini tidak sepenuhnya diperlakukan seperti diabetesi, tetapi mereka sudah diwanti-wanti untuk menjaga makanan dan berolahraga agar penyakitnya tidak berkembang menjadi diabetes," kata Guru Besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ini.
Senada dengan Prof.Sri Hartini, Prof.Dr.Sidartawan Soegondo, Sp.PD, KEMD, mengatakan orang yang mengalami pra-diabetes masih bisa membalikkan keadaan atau paling tidak melambatkan perburukan kondisi. "Pada dasarnya dalam kondisi ini sudah terjadi resistensi insulin. Namun kondisi ini bisa dipulihkan dengan mengubah gaya hidup jadi lebih sehat," papar Presidan Persatuan Diabetes Indonesia ini dalam media edukasi tentang diabetes di Jakarta beberapa waktu lalu.
Kontrol gula darah
Dalam waktu lima tahun, pradiabetes yang tidak ditangani akan berkembang menjadi diabetes. Seseorang didiagnosis menderita diabetes ketika tubuhnya tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. Insulin adalah hormon yang dikeluarkan oleh pankreas dan diperlukan untuk mengubah makanan menjadi energi.
Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan glukosa tepat sesuai kebutuhan dan menyimpan yang tersisa. Akan tetapi tanpa insulin yang berfungsi membuka reseptor sebuah sel sehingga glukosa dapat masuk, gula yang berlebih ini terkumpul di aliran darah dan bisa menyebabkan segudang masalah.
Kelebihan berat badan merupakan faktor utama untuk diabetes pada orang dewasa. Hal ini terutama sangat penting untuk orang yang memiliki riwayat keluarga dengan penderita diabetes. Menurut Sidartawan, mereka yang berisiko tinggi terkena diabetes adalah berusia lebih dari 40 tahun, hipertensi, kegemukan, kolesterol tinggi, serta memiliki riwayat dalam keluarga. "Mereka ini dianjurkan melakukan pemeriksaan dini," katanya.
Langkah utama untuk menghindari risiko diabetes dan komplikasinya adalah dengan melakukan pemantauan gula darah secara rutin. Tingginya kadar gula darah menimbulkan komplikasi pembuluh darah. Mikroangiopati (gangguan mata, ginjal, dan saraf) maupun makroangiopati (stroke dan gangguan jantung).
Diabetes adalah penyakit yang menyerang secara diam-diam namun berakibat menjadi sebuah bencana. Karena itu penting bagi kita untuk memeriksakan gula darah guna mewaspadai naiknya kadar glukosa.
Saat ini banyak tersedia alat pengukur gula darah mandiri yang bisa dilakukan oleh kaum awam sehingga pasien bisa memantau sendiri gula darahnya. "Dengan pemantauan gula darah, konsumsi makanan bisa dikelola sehingga tak menimbulkan diabetes," kata Hery Purwanto, Product Manager Accu-Chek dari PT. Roche Indonesia.
Hindari kegemukan
Mereka yang diketegorikan pradiabetes sudah harus mengubah gaya hidup. Perubahan itu bisa memperlambat, bahkan mencegah terjadinya diabetes. Ini berarti lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat, menghindari gula, serta mengendalikan berat badan.
"Untuk mencegah diabetes, mereka yang termasuk pradiabetes dianjurkan untuk mengurangi atau menghilangkan faktor risiko, seperti kegemukan, kurang gerak dan faktor risiko lainnya," kata Sri Hartini.
Peneliti di Harvard University, Amerika Serikat, menemukan bahwa olahraga merupakan cara yang baik untuk membantu mencegah diabetes tipe 2. Dari wawancara dengan 22.000 dokter, para peneliti menemukan bahwa pria yang berolahraga sekurangnya lima kali dalam seminggu bisa menurunkan risiko mereka menderita diabetes hingga 40 persen.
Olahraga juga akan membantu tubuh lebih maksimal menyerap semua gula yang beredar dalam tubuh. Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat aerobik dan dilakukan secara teratur. Dalam jangka panjang hal ini akan membuat sensitivitas tubuh terhadap glukosa menjadi lebih besar sehingga kadar gula darah lebih stabil.
Sumber : http://health.kompas.com/index.php/read/2010/09/13/12345192/Saatnya.Siaga.Gula.Darah
Bawang Bombai Cegah DM
Bawang Bombai Cegah Diabetes
Sumber : http://health.kompas.com/read/2010/02/13/10391243/Bawang.Bombai.Cegah.Diabetes
Read More......
KOMPAS.com — Bawang bombai (Allium cepa L) memiliki kandungan kromium yang baik. Kromium berperan mencegah diabetes melitus. Seperti bawang putih, bawang bombai juga berperan penting bagi kesehatan.
Namun, berbeda dengan bawang putih, komponen sulfur pada bawang bombai terdapat dalam bentuk allyl propyl disulphide. Komponen ini berperan penting dalam menurunkan glukosa darah sehingga baik bagi penderita diabetes.
Bawang bombai juga baik untuk mencegah serangan jantung dan stroke. Komponen sulfur dalam bawang bombai akan bersinergi dengan kromium dan vitamin B6 untuk menurunkan kadar homosistein dalam darah. Bawang bombai juga memiliki sifat antiperadangan.
Komponen isothiocyanates (juga terdapat pada brokoli) dilaporkan dapat menghambat sel kanker. Komponen tersebut berasal dari senyawa glukosinolates yang mengalami
perubahan setelah bawang bombai digigit, dikunyah, dan dicerna. Bawang bombai juga mengandung komponen flavonoid yang sangat baik untuk mencegah kanker usus.
Para ahli di University of Bendi Swiss pernah meneliti manfaat bawang bombai terhadap tulang. Terbukti konsumsi bawang bombai setiap hari selama 4 minggu mampu meningkatkan konsentrasi kalsium penguat tulang hingga 17 persen.
Sumber : http://health.kompas.com/read/2010/02/13/10391243/Bawang.Bombai.Cegah.Diabetes
Kopi Teh Cegah Diabetes
Makin Banyak Bukti, Kopi-Teh Cegah Diabetes
Sumber : http://health.kompas.com/read/2009/12/16/14061367/Makin.Banyak.Bukti..Kopi.Teh.Cegah.Diabetes
Read More......
JAKARTA, KOMPAS.com - Kopi, teh, atau decaf! Apapun pilihan Anda, mengonsumsi salah satu jenis minuman itu dapat menekan risiko mengidap diabetes, demikian hasil analisa terbaru 18 studi yang melibatkan ratusan ribu orang.
Kajian terhadap suatu riset pada 2005 lalu menyimpulkan, orang yang meminum kopi paling banyak menghadapi kemungkinan tiga kali lebih kecil mengidap diabetes dibanding mereka yang paling sedikit meminum kopi, kata Dr Rachel Huxley dari University of Sydney, Australia.
Beberapa tahun sejak itu, jumlah penelitian mengenai hubungan kopi dan risiko diabetes meningkat lebih dari dua kali lipat. Sementara studi lainnya menunjukkan bahwa teh dan kopi non-kafein mungkin juga bersifat mencegah.
Untuk memperbarui bukti tersebut, Huxley dan timnya menganalisis 18 riset yang mengaitkan kopi, decaf, dan teh, dengan resiko diabetes tipe 2 yang dipublikasikan antara 1966-2009 dan melibatkan 459.000 orang.
Diabetes tipe 2, yang seringkali dikaitkan dengan obesitas, diderita hampir 8 persen penduduk AS, menurut "US National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases".
Dari tiap secangkir kopi yang dikonsumsi setiap hari, para ahli mencatat risiko seseorang terserang diabetes berkurang sebanyak tujuh persen. Pada keenam studi itu, yang meneliti kopi non-kafein, para peneliti mendapati, orang yang mengkonsumsi lebih dari tiga atau empat gelas kopi per hari memiliki risiko diabetes 36 persen lebih rendah.
Dalam tujuh studi yang meneliti kebiasaan minum teh dan risiko diabetes, orang yang minum lebih dari tiga atau empat gelas per hari menghadapi risiko 18 persen lebih rendah untuk terserang diabetes.
Menurut catatan Huxley dan timnya, analisis saat ini mungkin terlalu memperbesar estimasi dampak minuman itu terhadap risiko diabetes karena faktor statistik dengan skala studi yang lebih kecil. Juga tak mungkin untuk mengatakan dari bukti saat ini bahwa pecandu berat kopi dan teh serta minuman non-kafein tak memiliki karakteristik lain yang mungkin melindungi mereka dari diabetes, semisal diet yang lebih sehat.
Fakta bahwa dampak yang terlihat dari decaf, kopi dan teh seperti nyata, semua itu bukan hanya pada kafein semata, tapi mungkin juga berkaitan dengan bahan lain yang ditemukan pada minuman itu. Sebagai contoh magnesium, lignan --bahan kimia mirip estrogen yang ditemukan pada tanaman-- atau asam klorogenik --yang merupakan antioksidan yang memperlambat terlepasnya gula ke dalam darah setelah makan.
Riset klinis dibutuhkan guna menyelidiki apakah memang minuman itu membantu mencegah diabetes. Jika manfaat itu terbukti benar, para dokter mungkin dapat mulai menasehati pasien yang berisiko diabetes bahwa bukan hanya harus olahraga dan mengurangi berat badan, tapi juga minum teh dan kopi.
Sumber : http://health.kompas.com/read/2009/12/16/14061367/Makin.Banyak.Bukti..Kopi.Teh.Cegah.Diabetes
Langganan:
Postingan (Atom)
Diabetes, Jangan Tunggu Bergejala!
Tidak sedikit penderita diabetes melitus yang terkejut ketika dinyatakan mereka mengidap diabetes karena mereka sama sekali tak merasakan adanya gejala. Diabetes berkembang secara bertahap dan tidak selalu memperlihatkan gejala. Sekalipun ada, biasanya hanya beberapa tanda. Ini umumnya terjadi pada diabetes tipe dua. Selengkapnya...





